Selasa, 21 April 2009

Engkau, Yang Terindah...

Engkau...
Cerahnya fajar yang tenang namun riang.

Tercipta dari sari bunga teristimewa.

Jika rembulan telah purnama,
ku lihat engkau lebih sempurna.

Senyummu menyibak gigi yang indah,
laksana mutiara yang terpendam di kedalaman samudera.

Andai alas kakimu menginjak kerikil,
niscaya akan tumbuh bunga daripadanya.

Atau ludahmu yang manis itu jatuh ke laut,
niscaya menjadi minuman yang baik bagi penduduk bumi.

Biarlah mata ini terus begadang hingga padang,
pedang patahkan tulang ruh pun hilang.

Atau langit kan murka,
ku mengambilmu darinya.

Biarlah...

Ku bisa meminangmu,
bidardariku.

Di dunia dan di surga.....

Cinta Di Ujung Malam

Setiap malam,
menjelang pagi barangkali.

Aku segera terbangun,
padahal sedang bermimpi
dahiku dikecup bidadari.

Dan ketika
aku membuka mata,
"Bidadari" itu sedang memandangiku,
sambil mengenakan mukena jingganya,
"Shalat yuk, Mas..."

Istriku...
separuh agamaku,
penjaga ketaatanku pada-nya.

Terimakasih, Cinta...

Kosong

Tiap kali melihat senyummu,
Engkau mengingatkanku akan surga.

Dan tiap kali engkau marah,
Ku teteskan air mata ingat neraka.

Maka, teruslah begitu,
sesekali tersenyum,
atau marah padaku.

Engkaulah gairahku...

Warna Jiwa

Cuaca renyai senja.

Malam luruh.

KerudungMu begitu biru.

Lalu ada hujan yang mungil.

Menempias di genting-genting dekil.

Aku pun rasakan cinta,

Di atas sajadah rindu...

Rindu (dari Octa)

Kalau ada angin singgah

di pangkuanmu

di senja yang lengang

itu aku

: rindu

Kau

Kau adalah
matahariku
terus bersinar
kuncupkan jiwa di musim semiku.

Kau adalah
pelangiku
lukiskan asa
dalam hujan deraiku.

Kau adalah
mimpiku
ku kan berlari
mengejarmu,
memelukmu.

Kau adalah
puisi abadiku
yang tak pernah kutemukan
dalam semua buku.

Sayang...

Pelangi (Kita) Berdua

Pelangi telah singgah
di palung hati kita.

Uraikan warna jiwa
lalu kita tahu
merah jingganya senja.

Kita harus ceria
tertawa
agar hati pelangi
(ada)
beribu pelangi.